by
langitku
@ 2007-04-13 - 07:12:46
Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya
belakangan ini selalu tampak murung.
"Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di
dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu?" sang Guru bertanya.
"Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk
tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya," jawab sang
murid muda.
Sang Guru terkekeh. "Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam.
Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu."
Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan
gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana
yang diminta.
"Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu," kata
Sang Guru. "Setelah itu coba kau minum airnya sedikit."
Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air
asin.
"Bagaimana rasanya?" tanya Sang Guru.
"Asin, dan perutku jadi mual," jawab si murid dengan wajah yang masih
meringis.
Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis
keasinan.
"Sekarang kau ikut aku." Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat
tempat mereka. "Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau."
Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa
bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa
asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah
di hadapan mursyid, begitu pikirnya.
"Sekarang, coba kau minum air danau itu," kata Sang Guru sambil
mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir
danau.
Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan
membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin
dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya
kepadanya, "Bagaimana rasanya?"
"Segar, segar sekali," kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan
punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber
air di atas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah.
Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang
tersisa di mulutnya.
"Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?"
"Tidak sama sekali," kata si murid sambil mengambil air dan
meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya,
membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.
"Nak," kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. "Segala masalah
dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih.
Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus
kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai
untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang
dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun
demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang
bebas dari penderitaan dan masalah."
Si murid terdiam, mendengarkan.
"Tapi Nak, rasa `asin' dari penderitaan yang dialami itu sangat
tergantung dari besarnya 'qalbu'(hati) yang menampungnya. Jadi Nak, supaya
tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu
jadi sebesar danau."
PELAJARAN KETEGARAN
Di California Selatan ada sebatang pohon yang terkenal di seluruh Amerika.
Sepanjang tahun pohon itu dikunjungi ribuan wisatawan dari dalam dan luar
negeri. Bentuk pohon itu sama sekali tidak sedap dipandang mata. Tingginya
kurang dari 2 meter dengan batang agak pipih & melintir. Hanya sebagian cabang
ditumbuhi daun, sedang bagian lainnya gundul. Pohon itu menjadi terkenal karena
tumbuh di atas batu granit yang keras. Tingginya sekitar 100 mtr di atas
permukaan laut, menghadang langsung Samudera Pasifik yang anginnya keras
mendera.
Tidak ada pohon lain yang tumbuh di sekitarnya, kecuali pohon itu. Rupanya
beberapa tahun lalu sebutir biji pohon terbawa angin, dan jatuh di celah batu
granit yang ada tanahnya. Benih itu kemudian tumbuh, tetapi setiap kali batang
muncul keluar, langsung hancur diterpa angin Pacific yang kencang. Terkadang
pohon itu tumbuh agak besar, tapi badai kembali memporakporandakannya.
Sekalipun demikian, akarnya terus tumbuh menghunjam ke bawah mencapai tanah
melewati poros-poros batu granit sambil menghisap mineral-mineral di sekitarnya.
Sementara itu batangnya tumbuh terus setelah berkali-kali dihancurkan angin
kencang, makin lama makin kokoh dan liat sampai akhirnya cukup kuat menahan
terpaan badai, sekalipun bentuknya tidak karuan. Oleh orang Amerika, pohon
tersebut dianggap sebagai simbol ketegaran karena seakan-akan memberi pelajaran
kepada umat manusia untuk tetap tabah dan gigih dalam menghadapi berbagai cobaan
dan gelombang kehidupan.
Ada beberapa hal yang perlu dipahami. Pertama, selama hidup, kita tidak bisa
bebas dari masalah karena masalah adalah bagian dari kehidupan. Kedua, masalah
tidak selalu berdampak negatif, tetapi juga bisa positif. Bila seseorang mampu
mengatasi masalahnya dengan baik, maka selain meningkatkan ketegaran juga
menjadikan lebih matang dan dewasa. Intinya adalah bagaimana menghadapi masalah
dan mengatasinya, serta apakah seseorang dapat belajar dari pengalamannya.
Ada seseorang meninggal, dan ketika sadar ia sudah berada di tempat indah penuh
dengan segala fasilitas. Apapun yang ia minta selalu dipenuhi. Dan tentu saja
sama sekali tidak ada masalah di sana. Mula-mula almarhum sangat bahagia, tapi
lama kelamaan menjadi sangat jemu karena segalanya terpenuhi, tinggal minta.
Akhirnya di puncak kejemuannya ia memohon, Ya Tuhan, aku sangat jemu di Sorga
ini.
Pindahkan aku ke neraka. Dan apa jawaban Tuhan? Ini bukan Sorga, ini
neraka!. Jika problem dihadapi dan berhasil diatasi, dibalik segala masalah ada
hikmah yang bisa diambil.
Pertama, adanya problem memberikan kesempatan kepada kita untuk membuktikan
bahwa kita mampu mengatasinya. Keberhasilan mengatasi masalah dan bukan
menghindarinya akan membuat diri kita menjadi lebih tegar dalam menghadapi
berbagai masalah lain yang pasti suatu saat akan muncul. Kepercayaan diri kita
akan meningkat dan kita tidak lagi menjadi pengeluh yang cengeng.
Kedua, mengalami getirnya problem memberi peluang untuk menentukan sikap, apakah
akan tetap menjalani pola hidup yang sama atau beralih ke arah yang lebih benar
dan baik. Sebagian besar penyebab timbulnya masalah adalah karena salah
menentukan sikap dan tindakan. Jadi sebenarnya selain memberi petunjuk bahwa
kita telah salah langkah. Problem yang timbul juga memberi peluang untuk
mengubah arah.
Ada sebuah kisah menarik. Seorang pria yang bersahabat dengan orang-orang jahat,
difitnah oleh teman2-nya sehingga masuk penjara selama
bertahun-tahun. Setelah keluar penjara, keluarganya menganjurkan supaya mencari
mereka yang memfitnah dirinya dan mengajukan mereka ke pengadilan. Tetapi pria
itu menolak bahkan memaafkannya. Ia mengatakan bahwa musibah itu terjadi karena
kesalahannya sendiri memilih teman-teman yang tidak baik.
Kejadian tragis itu malah memberi peluang baginya untuk memilih jalan hidup baru
yang lebih baik. Kemudian ia membuka lembaga pendidikan pribadi yang mengajarkan
makna memaafkan.
Keyakinan bahwa setiap masalah pasti ada jalan keluarnya dan keyakinan bahwa
setiap masalah pasti ada jalan keluarnya dan keyakinan bahwa di balik masalah
ada hikmah yang bisa diambil merupakan sikap positif dan sehat.
Akhirnya, kalau kita sadar bahwa problem/masalah merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari kehidupan dan selalu ada cara untuk mengatasinya serta selalu
ada hikmah di balik masalah, maka kita tidak akan lari dari masalah.
(dikutip dari Majalah Nirmala)